Rabu, 07 Januari 2009
Salahkah ?

Membangun suatu kerajaan bisnis adalah seperti membangun sebuah istana yang sangat besar, begitu kira-kira saya menggambarkannya. Betapa tidak, untuk membuat sebuah kerajaan bisnis yang megah dan complicated sebelumnya anda harus belajar dulu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang yang akan anda geluti terlebih dahulu sampai benar-benar expert/ mahir. Dan tentu sebelum segala sesuatunya di bangun anda harus mempersiapkan planning/ rencana-rencananya dulu, seperti kata pepatah “ failure preparation is preparation failure “/ gagal merencanakan sama dengan merencanakan gagal.
Dari semua yang telah saya sebutkan bisa kita simpulkan bahwa untuk membuat imperium bisnis yang solid kita harus memulainya sedini mungkin, agar dikala orang lain baru mau belajar merangkak, kita sudah berjalan, dan ketika orang lain baru belajar berjalan kita sudah pandai berlari. Tentu semuanya harus di dukung oleh segala macam potensi yang ada pada diri kita dan di maksimalkan pula.
Jadi salahkah kita ? jika suatu saat kita sudah menggapai puncak kesuksesan sedangkan yang lain baru tertatih-tatih dan baru mengalami trial and error.
Salahkah kita? Jika usaha kita yang sangat maksimal menghasilkan yang luar bisa di bandingkan hasil orang lain yang dengan usaha biasa-biasa saja.
Salahkah kita? Jika kita berdo’a lebih serius dan membuahkan hasil yang lebih gemilang dari pada yang tidak mau berdo’a sama sekali?
Jadi kalau anda tidak mau ketinggalan, mulailah dari sekarang
Segera action ! karena kesuksesan ada di alam action, bukan di alam angan-angan
Sabtu, 03 Januari 2009
Kesederhanaan Adalah Tujuan Hidup Setiap Orang

Kata sederhana tidaklah sesederhana maknanya, beberapa dari kita kadang ada yang anti dengan kesedarhanaan, padahal itulah yang selama ini orang cari. Kenapa tidak ? hasil dari perkembangan teknologi adalah untuk membuat yang sebelumnya rumit jadi sederhana. Dan itulah arti dari solusi cerdas sebenarnya. Kenapa anda harus sekolah tinggi-tinggi kalau tidak bisa membuat yang sebelumnya rumit menjadi sesuatu yang sederhana? Percuma mengikuti pelajaran di bangku kuliah selama bertahun-tahun, mengikuti kursus-kursus, seminar dan lain sebagainya termasuk juga workshop tentang kepemimpinan kalau tidak bisa menyederhanakan dan memetakan masalah secara jelas agar mudah mencari solusinya.
Minggu, 30 November 2008
Orang Jahat Adalah Orang Penakut

Banyak sekali kejadian di masyarakat yang kadang membuat kita bertanya-tanya kenapa mereka bisa berbuat begitu, ada pencuri, ada pencopet, ada penodong, ada juga pemarah dan banyak lagi sifat-sifat negatif yang sering timbul di kehidupan sosial maupun kehidupan pribadi.
Dari sifat-sifat tersebut diatas sebenarnya mereka atau kita sendiri adalah orang yang penakut, kok bisa begitu?
Ya, Pencuri, pencopet, penodong berbuat seperti itu karena takut tidak kaya, atau takut di bilang miskin, atau takut tidak makan dan berbagai macam alasan takut lainnya.
Seorang yang pemarah juga bisa disebut penakut karena dia takut kalau tidak bahagia, atau takut tidak dianggap gagah, atau takut dianggap lemah dan alasan takut lainnya.
Orang berbuat curang atau berbohong dalam berbisnis adalah penakut juga karena ia takut rugi, takut untungnya tidak besar, takut lama kaya, dan alasan takut lainnya.
Mari mulai dari sekarang kenapa kita harus takut?
Kalau kita punya bos besar yang Maha kaya, Maha pengasih dengan hambaNya yang mau berusaha dan minta dengan serius.
Pak Ogah Era Modern

Di zaman modern seperti sekarang ini (eh ngerasa di zaman modern ga sich hihihi…) gambaran suatu budaya dan peradaban terlihat sangat beda dibandingkan dengan pada waktu masih 50 tahun yang lalu misalkan.
Tapi diakui atau tidak sebenarnya adalah sama saja, hanya cara dan alatnya saja yang berbeda. Sejarah terjadi hanya berulang-ulang saja, hanya lakon, cara dan tempatnya saja yang berbeda-beda. Oleh karenanya dari dulu cerita wayang terutama wayang kulit bagi orang Jawa, skenario secara garis besarnya itu-itu saja.
Anda kenal pak Ogah? Tokoh pemalas dalam film cerita Si Unyil ini sering di gambarkan sebagai sosok yang malas-malasan maunya minta-minta imbalan kalau memberikan sedikit jasanya kepada orang lain.
Dalam film Si Unyil yang sering di putar di televisis pada era 80-an pak Ogah sering bilang : “Cepe duluu …. dong den….” Mungkin karena waktu itu uang seratus rupiah masih lumayan tinggi nilainya, berbeda dengan sekarang kita semua tahu pak Ogah sekarang bilangnya :”Gope dulu dong den……” (eh maaf kok jadi mbahas film Si Unyil sih ….)
Suatu saat saya melihat adegan pada film Si Unyil, pak Ogah yang terkenal ogah-ogahan itu di tanya alamat suatu toko, eh jawabnya dengan santai : “Gope dulu dong den……”. Kalau kita amati secara lebih teliti, sebenarnya pak Ogah ini maunya menjual informasi tentang alamat toko yang di tanyakan kepadanya dengan sekeping uang lima ratus rupiah. Lalu apa bedanya dengan pebisnis internet yang menjual produk informasi yang hanya sedikit nilai manfaatnya?
Apakah kita termasuk yang mirip dengan pak Ogah?
Jadi Pebisnis Harus Malas

Anda setuju dengan pendapat saya? “Kalau mau jadi pebisnis itu harus malas”
Wah edan tenan iki rek …(kata orang Jawa Timur)
Ya benar sekali. Coba anda amati pada gaya hidup orang-orang yang sukses, kebanyakan dari mereka itu sebenarnya suka bermalas-malasan.
Kerjanya cuma bermain golf, kunjungan-kunjungan yang diwarnai pesta-pesta.
Eiiiit ….. Jangan salah paham dulu, malas disini artinya adalah malas mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bisa di delegasikan (dilimpahkan) ke orang lain.
Pebisnis yang pintar tidak akan membuang-buang waktunya untuk sesuatu hal yang tidak berguna. Pebisnis yang cerdas hanya mau mengerjakan yang penting-penting saja, kalau bisa, hanya “Making Deal” saja. Sama dengan yang diajarkan oleh Joko Susilo di formula bisnis.com.
Logikanya begini, kalau suatu pekerjaan dibayar dengan ongkos $5 dan anda bisa berikan pekerjaan itu kepada orang lain dengan ongkos $3, kenapa harus repot-repot dan bercapek ria mengerjakannya, sedangkan pekerjaan yang bernilai $20 masih menunggu anda untuk mengerjakannya.
“Hidup Ini Terlalu Pendek Untuk Berpikir Dan Berbuat Yang Kecil-Kecil”, Bung …..! Anda setuju dengan saya?
Langganan:
Postingan (Atom)



